
JOGJABOOK - Jalannya rapat kerja Panitia Khusus (PANSUS) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur DIJ Tahun Anggaran (TA) 2013 terpaksa berhenti di tengah jalan. Itu terjadi saat pansus yang diketuai Esti Wijayati menyoal target capaian pendidikan Pemprov DIJ 2013. Rupanya, program yang digadang-gadang Pemprov bersama DPRD DIJ meleset, alias tak mencapai target. ”Kita skors dulu sambil menunggu adanya penjelasan pemprov. Kenapa target yang sudah kita sepakati bisa tidak tercapai,” sesal Esti di lantai dua gedung DPRD DIJ kemarin (1/4).
Sebagai ketua pansus, sejak memimpin rapat kerja Esti merasa gelisah melihat laporan capaian lama sekolah yang disampaikan pemprov. Berdasarkan data di LKPJ tersebut terungkap, rata-rata lama sekolah di DIJ hanya 9, 21 tahun.
Padahal target yang dicanangkan pada 2013 lalu adalah 9,6 tahun. Capaian itu, lanjut politisi perempuan yang maju sebagai calon anggota DPR RI dari PDI Perjuangan nomor urut 3 mewakili daerah pemilihan (dapil) DIJ ini, sama dengan 2012 silam. ”Terus terang melihat laporan itu membuat saya sedih,” tuturnya blak-blakan. Kesedihan Esti itu agaknya beralasan. Sebab, semua program dan anggaran yang dicanangkan pada 2013 telah terealisasi. Namun hasil yang dicapai justru berada di luar perencanaan. Bahkan tak ada peningkatan dibandingkan 2012.
”Bagaimana kalau nanti saya tinggal ke Jakarta,” kelakarnya yang spontan mengundang geer rapat kerja yang juga dihadiri Sekprov DIJ Ichsanuri. Mendengar itu, sejawat Esti, Isti’anah Zainal Asikin langsung menimpali. “Ya jangan ditinggal ke Jakarta. Di sini saja,” celetuk Isti’anah.
Lebih jauh Esti mengatakan, capaian bidang pendidikan itu terasa ironis. Sebab, DIJ telah menetapkan visi sebagai Pusat Pendidikan Terkemuda di Asia Tenggara pada 2025.
”Bagaimana kita akan mencapai visi itu kalau sekarang saja capaian seperti ini,” sindir Esti yang tampak mengenakan blouse warna merah menyala.
Istri Bambang Sigit Sulaksana mengaku telah beberapa kali turun ke bawah melihat potret pendidikan masyarakat. Di antaranya, ibu tiga anak ini pernah turun di daerah perbatasan antara Kabupaten Gunungkidul dengan Kabupaten Klaten. Tepatnya di Dusun Karang Padang, Serut, Gedangsari, Gunungkidul.
Layanan pendidikan di daerah itu tertinggal dibandingkan daerah lain. Selain angka putus sekolah masih tinggi, anak-anak usia sekolah di daerah itu lebih banyak mengakses layanan pendidikan dari provinsi tetangga. “Itu karena belum baiknya infrastruktur di daerah itu seperti akses jalan. Ini menjadi keprihatinan,” paparnya.
Sekprov DIJ Ichsanuri sempat kesulitan menjawab pertanyaan yang diajukan Esti. Ia mengakui, masalah yang disoal itu tak tercantum dalam beberapa dokumen, termasuk laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (LAKIP) Provinsi DIJ.
Ia kemudian meminta bantuan jajarannya, khususnya Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi DIJ. Namun dalam rapat kerja itu, Kepala Disdikpora Kadarmanto Baskara Aji maupun stafnya tak ada yang datang. ”Mana ini dari dinas pendidikan. Harusnya ada di ruangan ini,” cetus Ichsanuri.
Lantaran yang dicari tak ada, birokrat yang tinggal di Plosokuning itu lantas menghubungi kepala disdikpora. “Sekarang masih dalam perjalanan ke dewan,” terangnya sebelum rapat dinyatakan diskors oleh Esti. (kus/ila)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar